Seandainya
saja kehidupan ini Tuhan ciptakan dengan Keadilan yang seadil-adilnya
bagi semua manusia. Mungkin Bunga tak akan lahir dari rahim seorang ibu,
yang hanya seorang perempuan desa dan kemudian merantau ke kota. Lalu
diperkosa oleh segerombolan pemuda mabuk, saat ibu tersesat setibanya di
kota dalam kebingungan mencari alamat rumah sutini, teman sekampung, yang katanya sudah berhasil hidup di kota.
Selanjutnya Ibu ditemukan oleh seorang perempuan setengah baya bertubuh tambun yang biasa di panggil “Mami’ oleh semua anak buahnya dan
rata-rata mereka itu adalah perempuan. Selama dalam penampungan Mami,
ibu mengandung diri Bunga dan setelah melahirkan Bunga, Ibunya pun
bekerja sebagai anak buah Mami, menjadi seorang pelacur.
Bunga besar dalam lingkungan yang penuh dengan aroma dan bau menyengat dari botol-botol minuman keras
yang biasa ditenggak oleh para tamu lelaki. Mereka yang biasa datang
ketempat Mami. Dan juga bau dengus nafas birahi mereka setelah menenggak
habis isi dalam botol-botol itu. Birahi mereka itu kemudian menciptakan aroma baru dari tubuh yang penuh dengan peluh itu.
Belum
lagi bau cairan sperma yang kemudian mengering, merembas ke dalam sprei
dan kasur tempat mereka bergumul, yang hanya sesekali saja dicuci dan
dijemur. Aroma dan bau itu senantiasa lekat dalam penciuman hidung
Bunga, yang memang tidak terlalu mancung. Tapi sesekali Bunga bisa
mencium bau harum tubuh ibunya, bau harum yang segar dan alami khas
perempuan desa. Atau
wewangian yang setiap saat dipakai ibunya saat bekerja. Bau yang tidak
menyolok, sebagaimana bau yang menebar dari tubuh perempuan-perempuan
lain, anak buah Mami.
Bunga suka sekali bau harum yang berasal dari tubuh ibunya. Iitulah sebab, terkadang Bunga sulit untuk tidur jika tidak dikeloni Ibu. Bau harum tubuh Ibunya selalu membuat dirinya bisa tidur dengan lelap diantara suasan bising yang ada. Lelap dalam mimpi-mimpi indah tentang sebuah tempat yang jauh lebih indah dari tempat ia tinggali sekarang.
Bersama ibunya, tinggal di sebuah rumah yang kecil namun terlihat asri dan juga damai. Berada di sebuah pegunungan, di ana, pagar dan halaman senantiasa dipenuhi oleh beraneka macam bunga, juga kupu-kupu dengan coraknya yang berbeda lagi indah. Selalu bermain di kebun bunga milik mereka itu. Terkadang terbang berputar, mengelilingi diri Bunga. Sementara Ibu memandangnya dari kejauhan sambil tersenyum.
Udara yang sejuk dikala pagi. Lalu terbitnya Mentari bisa terlihat dengan jelas. Bunga
serta Ibunya duduk berdua menunggu hadirnya yang malu-malu itu.
Burung-burung lalu bernyanyi, menambah ramai suasana pagi yang indah
itu. Betapa mimpi itu selalu saja membuat Bunga tersenyum dalam
tidurnya.
…
Tapi
pada suatu malam, Bunga gelisah tidak dapat memejamkan mata. Karena
ibunya tidak juga pulang menemaninya tidur. Kepada Mami dan semua teman
seprofesi Ibu, Bunga bertanya tentang keberadaan Ibu,“Ibu aku kemana ya, Mam? Mbak-mbak yang cantik ini, tau gak, kemana Ibu pergi?”
Menurut
penuturan Mami, seseorang telah membayar mahal dan meminta ijin
kepadanya untuk membawa Ibu Bunga pergi keluar dari kompleks itu. Tetapi
hati Bunga tetap tidak merasa tenang, sebelum Ibunya pulang untuk
menemaninya tidur. Bunga tidak bisa tidur, jika tidak mencium harum
tubuh Ibu!
Lalu
Bunga berlari menuju kejalan, dan kemudian duduk di pinggir trotoar,
menunggu Ibu pulang. Namun hingga pagi menjelang, Ibunya tak kunjung
menampakan diri. Hati Bunga semakin gelisah mendapati hal itu, bahkan rasa kantuk sama sekali tidak dapat ia rasakan setelah semalaman tidak tidur.
“Sudah
kamu pulang saja. Nanti Ibumu pasti pulang,” ucap Mami saat ia
mengetahui bahwa Bunga masih tetap menunggu Ibunya. Sama sekali tidak
tercermin di wajah Mami perasaan khawatir akan nasib Ibu. Bunga hanya
menggelengkan kepala.
Selama
3 hari, Bunga selalu kembali ke pinggir trotoar menunggu Ibunya pulang.
Ia hanya kembali untuk makan di saat lapar, dan kembali lagi. Namun
Bungan sama sekali tidak tidur, dan sama sekali tidak dapat tidur.
Karena Bunga tidak suka bau dan aroma tidak sedap yang senantiasa tercium dari tempat Mami itu.
Semua
orang yang berada di tempat Mami mulai khawatir melihat keadaan Bunga.
Mereka takut terjadi sesuatu pada Bunga, jika dia dibiarkan terus
seperti itu. Sedangkan mereka tidak tahu kemana perginya sang Ibu. Meski
peristiwa seperti ini kerap terjadi di tempat mereka. Dan bayangan
ketakutan semakin menghinggapi mereka, jika memang benar telah terjadi
hal buruk telah menimpa Ibunya Bunga. Seperti yang pernah terjadi pada
Ipah, salah satu teman mereka yang di ketemukan mati, dengan tubuh yang
terpotong-potong.
Mereka berupaya untuk terus membujuk Bunga untuk kembali ke rumah Mami untuk istirahat. Namun ajakan itu selalu ditolak Bunga, dan Bunga masih saja melakukan apa yang ia inginkan. Menunggu Ibu pulang. Seperti kisah seekor anjing yang selalu menunggu majikannya yang telah tiada pulang, hingga ajal menjemput Anjing itu.
Seperti itulah sekarang yang dilakukan Bunga, dengan terus menunggu di
pinggir trotoar jalan yang berada di depan gang kompleks.
Hingga suatu malam, dalam tubuh menggigil, Bunga melihat samar-samar dalam kegelapan seseorang melangkah tergesa mendekati
dirinya. Namun pandangan matanya yang telah lama tidak terpejam dalam
lelap tidur, membuat pandangan matanya sedikit kabur. Orang itu
melangkah tergesa mendekati Bunga, yang tengah merengkuh tubuhnya
sendiri mengusir dingin.
Tapi Bunga segera bangkit dari duduknya, saat ia mulai mengenali aroma tubuh orang tersebut.
“Ibu?!” seru Bunga kegirangan menebar senyum bahagia.
Seseorang yang dipanggil Ibu itupun berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Bunga. Lalu ia tersenyum saat dirinya telah berada dihadapan Bunga.
“Iya, Bunga. Ini Ibu, sayang. Maafkan Ibu yang telah menyusahkanmu”
Bunga langsung memeluk tubuh ibu erat-erat, menumpahkan semua rasa rindunya. Dan Ibu langsung membalas pelukan itu, lalu berdiri membawa Bunga dalam pangkuanya.
“Bunga kangen sekali sama Ibu..” ucap Bunga, lalu tangisannya mulai pecah. Kembali ia memeluk tubuh Ibunya erat-erat.
“Iya, sayang.. Maafkan Ibu, yah. Mari pergi dari sini” ucap Ibunya sambil mengusap lembut rambut
Bunga. Dan terdengar tangis Bunga yang mulai mereda, kemudian berhenti
sama sekali. Dia telah lelap tertidur dalam pangkuan Ibu.
….
“Bunga,
sayang… Bangun, nak..”ucap Ibu dengan lembut mencoba membangunkan
Bunga. Perlahan-lahan bocah kecil itu terjaga dari tidurnya. Matanya
mengerjap beberapa kali.
“Lihatlah,
apa itu..” tunjuk Ibu. Bunga mengikuti arah yang ditunjuk oleh Ibunya.
Masih dalam pandangan yang samar. Dia mulai mengucek-ucek matanya. Dan
kembali menatap ke arah yang di tunjuk Ibunya. Setelah melihat, Bunga
menoleh ke arah Ibu dan tersenyum.
DiTurunkan Bunga dari pangkuan. Mata bunga berbinar-binar saat melihat apa yang ada dihadapannya.
“Itu rumah kita, Bu?” tanya Bunga.
Ibu mengangguk,“Iya sayang. Itu menjadi Rumah kita sekarang.”
Bunga
begitu senang melihat sebuah rumah sebagaimana dalam mimpinya, rumah
kecil yang sederhana, di halamannya penuh dengan bunga yang
berwarna-warni. Kupu-kupu berterbangan mengitari bunga-bunga itu,
sebagian ada yang hinggap lalu terbang lagi. Dan bocah kecil itu langsung berlari menuju rumah yang dikatakan Ibu sebagai Rumah mereka sekarang. Lalu dia menari berputar diantara bunga-bunga itu. Jari-jari mungilnya
menyentuh dahan dan juga bunga-bunga. Lalu ia berlari kesana kemari
dengan riang, mencium setiap kelopak bunga yang ada. Sesekali ia berlari
mengejar kupu-kupu itu. Betapa bahagia terlihat hati Bunga saat itu.
Sementara Ibunya, hanya menatap anaknya dari kejauhan sambil tersenyum.
…
Semua
orang berkumpul mengerumuni tubuh kecil Bunga. Sementara Mami dan dua
orang anak buahnya duduk berjongkok di sisi Bunga yang tergeletak tak
sadarkan diri, dipinggir trotoar.
“Badannya
panas! Cepat bawa Bunga Kerumah sakit! biar Mami yang akan pergi
kekantor polisi untuk mengurus Ibunya. Setelah itu, Mami akan menyusul
ke rumah sakit. Cepat!” seru Mami kepada anak buahnya. Lalu tubuh kecil
Bunga di gotong. Mereka langsung menghentikan kendaraan yang lewat. Dan
kemudian membawa Bunga yang tengah tak sadarkan diri.
Setelah
sekian lama, dirumah sakit. Mami datang ke kamar dimana Bunga di rawat.
Lalu Mami menghampiri salah seorang anak buahnya yang tengah duduk
menunggui Bunga.
“Gimana, Mam?” tanya anak buah Mami itu. Saat Mami telah berada di dekatnya.
“Iya, memang benar. Perempuan itu adalah Ibunya Bunga”jawab Mami
“Innalilahi… kasian mereka ya, Mam”
“Iya. Mami juga bingung bagaimana nasib mereka nanti.”
“Iya, mam..”
…..
Jasad
Ibu dan Anak itu memang terpisah dalam ruang perawatan Rumah Sakit. Ibu
temukan dalam keadaan sekarat di sebuah Hotel. Wajahnya babak belur
penuh luka dan darah. Ditemukan dalam keadaan telanjang, terkapar di
lantai. Meskipun masih tertolong, namun kini masih berada dalam keadaan
koma. Sedangkan Bunga, sampai saat ini juga masih belum sadarkan diri.
Namun mereka terlihat bahagia tinggal bersama di rumah kecil milik mereka. Yang terletak di sebuah pegunungan. Di
mana, pagar dan halaman senantiasa dipenuhi oleh beraneka macam bunga.
Lalu kupu-kupu dengan coraknya yang berbeda lagi indah, selalu bermain
di kebun bunga milik mereka. Dan terkadang terbang berputar, mengelilingi diri Bunga. Sementara Ibu memandangnya dari kejauhan sambil tersenyum.
Udaranya sejuk dikala pagi. Lalu terbitnya Mentari bisa terlihat dengan jelas. Bunga
serta Ibu duduk berdua menunggu hadirnya yang malu-malu itu.
Burung-burung lalu bernyanyi, menambah ramai suasana pagi yang indah
itu. Betapa semua itu selalu membuat Bunga dan Ibu tersenyum dalam tidurnya.
post:awankening